Hari Minggu Untuk Ayah


Duh putrengsun sarnya sumurupa nini. Tegese kang Panca Wisaya mengko winardi. Ingkang sepisan rogarda. Maksudira garaning badan sayekti. Kalih sang sararda. Yeku rekasaning dhiri. Katelu ingkang winarna. Wirangarda tegese laraning ati. Kaping pat cuwarda. Yeku rekasaning ati. Durgarda pringganing nala
(Pupuh Maskumambang bait 18-20)

Untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu aku bertemu dengan ayahku. Sekarang aku hanya mampu menatap sosok ringkihnya, tangannya terpasang selang-selang infus, alat-alat perekam jantung. Ayah tergolek lemah setelah kejadian jatuh di kamar belakang ketika asyik meneliti bibit padi organik dan divonis dokter mengalami serangan jantung namun kami masih bersyukur Ayah tidak mengalami stroke. Kulihat ayah begitu tersiksa dengan keadaan tersebut, ibu juga begitu lelah terlihat dari pancaran wajahnya yang tak pernah ceria semenjak aku datang ke rumah sakit langsung dari bandara pagi tadi.

Dokter yang memeriksa ayah baru saja keluar dari kamar ayah setelah melakukan pemeriksaan rutin tiap lima jam sekali, menghampiri ibu dengan wajah sedikit ceria. Dokter mengatakan kondisi ayah yang hingga hari ini mulai membaik, kami segera masuk ke dalam.

“Mungkin, dengan melihat anak sulungnya, ayah menjadi lebih baik Rif.” Bisik ibu sembari membuka pintu kamar ayah.
Aku berpikir mungkin akan beginikah ketika aku tua nanti? Lemah dan tak punya daya walaupun keluarga selalu menanti kesembuhannya. Kupegang tangan ayah, masih hangat seperti dulu, pelan kuangkat tangannya dan kucium punggung tangan ayah dengan takzim.

Perlahan kulihat ayah membuka matanya dan tersenyum mendapati diriku sudah berada di sisinya, karena sejak beberapa hari yang lalu sebelum aku memutuskan cuti pulang ke Indonesia, ayah selalu mencari diriku yang lama tak dijumpainya. Beliau membuka mulutnya perlahan, mengatakan sesuatu walau masih berupa bisikan halus. Ku dengar pelan-pelan dan hati-hati.

“Sekarang hari apa Rif?” Tanyanya untuk pertama kali Ayah mengeluarkan suara menyapaku.

“Hari Senin Ayah….?” jawabku dan bertanya heran mengapa pertanyaan itu-itu saja yang beliau sampaikan setiap menyapaku pertama kali.

“Hmm selalu begitu, hari Minggu seperti lewat saja ya, Kau bertambah gemuk Arif.” Puji ayah dalam bisiknya.

“Ya ayah… beginilah aku yang selama lima tahun di negeri orang.” Jawabku sedikit ingin menitikkan air mata. Ku tahan air mata ini agar tak membuat ayah semakin tak bersemangat. Bukankah orang sakit harus selalu diberi semangat.

“Makan apa kau selama di Belanda?” tanyanya.

“Makan roti dan keju Yah, hanya sesekali makan nasi.”

“Rupanya kau masih anak Indonesia. Jangan kau lupakan nasi sebagai makanan pokok.”

Ibu yang berdiri di sampingku tampak bahagia dengan perkembangan kesehatan ayah. Ibu menitikkan air mata bahagia namun cepat-cepat dihapus air mata tersebut. Menyibukkan diri memberesi barang-barang yang berserakan di meja kursi.

***

Ayah kugambarkan sangat berkesan. Saat mengajariku belajar naik sepeda walaupun lututku menjadi korban beberapa kali jatuh karena belum bisa mempertahankan keseimbangan. Ayah juga yang mendorongku untuk bangkit untuk lebih giat mendalami matematika ketika tahu nilai ulangan matematika mendapat angka empat dengan tinta merah dari guruku sewaktu smp dulu. Ayah juga yang menasehatiku untuk berhati-hati ketika mengenal cinta walaupun cinta itu masih sebatas cinta monyet.

Hal yang paling tercatat dalam ingatanku adalah Ayah selalu mengajakku berwisata setiap hari Sabtu atau malam minggu, entah mengapa tak pernah aku merasakan seumur hidupku ayah mengajakku bepergian atau bersenang-senang di hari Minggu. Sampai-sampai aku kehabisan akal membujuk Ayah karena keinginanku seperti teman-teman sekolahku yang lain setiap hari Senin selalu bercerita pengalamannya rekreasi, memancing, belanja di mall dengan ayah tercintanya.

Pernah aku bertanya kepada ayah, “Mengapa ayah tak pernah mengajakku berlibur di hari Minggu?” ayah waktu itu hanya menjawab “Semua orang menikmati hari Minggu sebagai hari libur, itu hal yang bisa. Yang tidak bisa itu berlibur di hari selain Minggu karena pasti akan berkesan selama kamu hidup nak.” Jawaban tangkas yang membuatku akhirnya tak begitu iri dengan teman-temanku yang bercerita apa yang mereka lakukan di hari Minggu, pastinya aku lebih bangga bisa berlibur di hari Sabtu. Tidak masalah, karena dulu sekolahku hanya masuk selama lima hari dari Senin sampai Jumat.

Walaupun sebenarnya hari Minggu yang kulewatkan ternyata sama dengan hari-hari lainnya. Aku merasakan dicium pacar pertamaku di hari Minggu hujan saat kami berteduh di kanopi halte bus. Ketika aku mendapatkan hadiah ulang tahun berupa peralatan mendaki dari pacar ketigaku ketika kuliah juga di hari Minggu. Semuanya masih kusimpan di dalam memori otak terdalamku karena suatu hari aku akan membongkar memori itu untuk mengenang ayah.

***

Dokter mengatakan kesehatan ayah mulai membaik, beberapa kolega bisnisnya ada yang datang menjenguk ayah, menyatakan simpati dan berharap kesembuhan ayah. Juga tetangga-tetangga dekat, teman-teman ibu, bahkan teman-teman Ratri adikku yang juga menjenguk ayah membawakan beberapa macam buah tangan untuk ayah.

Aku memutuskan mengambil cuti kerja dari pekerjaanku di Belanda selama satu bulan setelah mendapatkan kabar bahwa ayah sakit. Pekerjaan tetapku disana sebagai peneliti ilmu antropolog. Bidang yang sangat aku gemari dari dulu walaupun aku bukan berasal dari keluarga sosiolog atau budayawan. Aku dengan tekun mendalami ilmu sejarah melanjutkan progam doktoralku dan sudah lima tahun ini bekerja sebagai peneliti di sana.

“Arif, aku tahu kau begitu sibuk di Belanda, tapi dengan cuti mu ini aku senang, ada seorang pendengar baik untuk mendengarkan sejarahku.” Kata ayah suatu hari yang kuajak jalan-jalan mengitari area taman rumah sakit.

Jenuh pastinya membiarkan ayah hanya tergolek di ranjang putih tanpa mendapat kesempatan melihat matahari bersinar ceria, melihat bunga-bunga bermekaran dan mewangi. Terapi jiwa lebih manjur daripada harus selalu bergantung pada obat-obatan. Mungkin yang dibutuhkan ayah sekarang hanya telinga, dan telinga itu milikku sejak dulu, ketika aku masih remaja ingusan.
“Arif, aku tak pernah merasakan hari Minggu sejak aku dilahirkan di dunia.” Kata ayah.

“Maksud Ayah? Bukankah setiap manusia pasti merasakan hari minggu, hari libur?” tanyaku. Mengapa akhir-akhir pembicaraan ayah mulai melantur jauh, sangat bertolak belakang dengan kesehariaannya yang tak begitu percaya magis, penuh imajinatif. Tapi kudengarkan saja beliau bercerita tentang masa lalunya, mungkin beban hidupnya sedikit berkurang.

“Aku belum menceritakan hal ini kepada siapapun. Bahkan ibumu dan adikkmu, mereka sama sepertiku yang tidak mempercayai misteri gaib, semua hal harus dibuktikan dengan fakta. Sedangkan aku tahu kau orang sosial yang sangat peka dengan dunia misteri, kenyataannya beberapa orang ada mengalaminya.” Ayah menoleh sebentar ke arahku.
“Ya…… semacam antara percaya dan tidak seperti kau bisa jadi percaya bahwa sebuah mantra atau ajian itu bisa menjadi kenyataan sedangkan orang eksakta tidak percaya sebelum ada bukti pembenaran bahwa mantra itu bisa membuat orang tiba-tiba bisa menghilang.”

Ayah berbicara panjang lebar, dan aku masih dalam tahap meraba apa yang sedang dibicarakan ayah ini. Ku dengarkan saja ayah melanjutkan ceritanya. Walaupun dalam hati aku mengomentari sedikit-sedikit. Apakah sedikit membosankan atau mengharukan. Entahlah….

“Sebenarnya aku dikutuk oleh ibu, tidak bisa merasakan hari Minggu yang indah, bahkan aku melewati sebuah hari Minggu seperti aku tak pernah mengalaminya” Matanya menerawang mulai menggambarkan masa lalunya.

“Kenapa bisa begitu?” tak lupa kusuapi irisan apel yang kubawa dari kamar tadi sebelum keluar.

“Dulu Ibuku seorang wanita pejuang kemerdekaan, hidupnya dipenuhi oleh pengabdian kepada negara yang berusaha merebut kemerdekaan. Karena ibuku seorang penganut kejawen yang fanatik, ibu selalu menanamkan doa-doa mantra dalam setiap nafas kehidupannya, rajin melakukan ritual puasa putih, puasa Senin Kamis, bahkan menyimpan beberapa benda pusaka sebagai tolak bala, tak lupa dia memberi sesembahan kepada para leluhurnya setiap malam Jum’at Kliwon. Pada saat itulah dia selalu mendoakan para pejuang yang hendak berperang melawan penjajah. Agar selamat sentosa tercapai segala keinginan untuk bisa merdeka ”

“Sejarah Indonesia yang tak pernah berubah kan Yah… “ desisku.

“Memang tak akan pernah berubah, masa lalu itulah sejarah. Bahkan nafasmu yang baru saja keluar adalah sejarah beberapa detik yang lalu. Bukankah begitu. Untuk itulah sejarah perlu diingat. Tapi ibuku tidak. Dia ingin melupakan sejarahnya dengan menanamkan sebuah mantra ajian sejak aku lahir.”

“Yah… jangan kau salahkan nenek yang sudah membuat kehidupanmu menjadi sedikit mengerikan.”

“Ibuku diperkosa. Ketika terjadi serangan mendadak dari serdadu Jepang. Rumah Simbah waktu itu disatroni serdadu yang seperti macam kesetanan mengobrak-abrik keadaan rumah. Simbah yang waktu itu sedang mengunjungi salah satu rumah kakak ibuku tak tahu bahwa ibu sedang sekarat lemah setelah diperkosa oleh beberapa serdadu Jepang. Kejadian itu tepat terjadi di hari Minggu.”

Kuperhatikan Ayah berhenti sejenak mengambil nafas sejenak. Mungkin masa lalunya begitu berat dia pikul sendirian. Sudah saatnya kisah ini ia bagikan kepada salah satu anaknya yaitu aku.

“Ibuku mengalami trauma akut, ketakutan jika ingat hari itu adalah hari Minggu. Bahkan ketika ibuku tahu ia mulai mengandung bayi yang tak tahu siapa ayahnya, selama kehamilannya dia selalu meratapi nasibnya yang tak pernah bahagia. Lebih terpukul lagi ia harus melahirkan aku di hari Minggu, ibu seperti kesetanan menangis tak tentu arah, bahkan kakakknya yaitu pakdeku hanya bisa mengelus dada, simbah menangis sambil mengurus bayi merah yang baru saja lahir dari rahim ibu. Hari itu ajal ibuku menjemput, sebelumnya dia mengatakan entah itu doa, kutukan atau mantra yang membuat pakde bergidik ngeri mendengarnya.” Lanjut Ayah.

“Kutukan semacam apa Yah?” tanyaku ingin tahu mengapa nenekku begitu kejam menyiksa kehidupan Ayah.

“Entah….. hanya waktu itu menurut cerita pakdheku ibu menyanyikan sebait tembang maskumambang.”

“Ayah….. baik-baik saja kan?” Aku mulai khawatir mengapa tiba-tiba tubuh ayah bergetar hebat. Rasanya dia seperti mengalami mimpi buruk dan tak ada yang membantunya keluar dari mimpi itu. Apakah aku bisa menarik ayah keluar dari dunia imajinasinya yang semakin gila ini?

“Duh putrengsun sarnya sumurupa nini. Tegese kang panca. Wisaya mengko winardi. Ingkang sepisan rogarda. Maksudira garaning badan sayekti. Kalih sang sararda yeku rekasaning dhiri. Katelu ingkang winarna wirangarda tegese laraning ati. Kaping pat cuwarda yeku rekasaning ati. Durgarda pringganing nala” Ayah menyanyikan sebuah tembang kuno dari Jawa itu.

Maskumambang yang sedang dinyanyikan Ayah mengundang hawa dingin yang mulai merasuki tubuhku, sedikit bulu romaku berdiri membayangkan seberapa hebat tembang itu hingga membuat Ayah tak pernah bisa hadir dalam Hari Minggunya. Semacam sabotase gaib entah dari siapa.

“Jadi, tembang itulah yang membuat Ayah seperti kehilangan satu hari yang sangat berarti dalam kehidupan ayah?”

“Sangat berarti Rif, dulu waktu kecil, aku juga sama sepertimu waktu kecil, iri dengan teman-teman yang bisa berlibur pada hari minggu, sedangkan aku hanya menggigit jari, hari minggu lewat begitu saja tanpa celah aku bisa memasukinya. Waktu remaja aku sama sepertimu yang keranjingan cinta monyet, namun sayangnya hari minggu menjadi tak berkesan karena semua lewat seperti mimpi siang bolong.”

“Ayah tidak tahu sedikitpun apa kegiatan Ayah di hari Minggu?” Tanyaku heran.

“Ya, kata Pakdhe hari Mingguku sangat indah. Ketika punya pacar pertama, ketika bertemu dengan ibumu, melamarnya, menikah dengannya, bahkan kelahiranmu Rif. Heran, seperti kilatan waktu, tahu-tahu ibumu sudah tertidur disampingku dan menjadi istirku.”

“Aneh Yah…. orang-orang jaman sekarang tak akan percaya kutukan. Bahkan aku pun tidak… tapi memang nuansa magis menjadi terasa jika berbenturan dengan budaya lokal yang masih primitif. Mereka sangat percaya dan memang ada. Mau tidak mau manusia memang harus mengakuinya kan Yah.”

“Jadi kau percaya, sebuah ajian itu ada? Doa-doa mantra yang diucapkan para leluhur dulu sangat kental terasa dalam kehidupan Ayah.”

Aku tak berani menjawab, karena aku hidup di jaman modern yang notabene sangat jauh sekali dengan dunia seperti. Di belahan barat dunia hal-hal seperti itu mungkin akan menjadi bahan yang tidak penting untuk diperdebatkan. Aku akhiri acara jalan-jalan pagi itu, ku dorong Ayah menuju kamarnya yang tak jauh dari taman. Sejenak aku masih memutar otak menerka-nerka apakah yang baru saja diceritakan Ayah nyata?

***

Kenapa banyak orang disampingku sekarang, mengapa aku terbangun? Mengapa tubuhku tergolek tak sadarkan diri, mengapa Arif membaca surah Yassin tak henti-henti, Istriku menangis memegangi tanganku dengan erat seolah tak rela aku terbangun dalam keadaan seperti ini, Ratri terpaku di sudut kamar dengan mata sembab. Dokter? suster? Alat pacu jantung? Ah…….kenapa aku seperti sendiri, mereka tak mendengar sapaanku, Istriku tak merespon pelukan hangat dariku. Mengapa?

Aku berada dalam pusaran waktu, dan melihat angka-angka sakral berputar di sekelilingku, menggambarkan tahun-tahun kesedihanku, bahkan semasa hidupku aku belum pernah merasakan keanehan ini, ada almarhum Pakdhe, Simbah, dan siapa perempuan itu? Dia memanggilku sebagai anaknya, apakah itu Ibuku yang telah menanamkan trauma Hari Minggu kepadaku? Mengapa semua seperti layar tancap yang mempertontonkan seperti apa aku dulu. Semua terlihat jelas…… rupanya ini hadiah dari ibu yang sudah menyabotase seluruh memoriku di Hari Minggu?

Aku memakai baju kebesaran beskap jawa dengan batik parang rusak sebagai motif batiknya. Disampingku ada istriku yang terlihat sangat cantik di rias paes ageng, senyum tersungging dari bibirnya, kami merasakan menjadi raja sehari. Aku terlihat bahagia, selalu ku genggam tangan istriku itu. Itukah aku ketika menikah? Istriku yang dulu menginginkan kami menikah tepat dihari ulang tahunnya yang ke 24 di Hari Minggu…

Istriku sedang kesakitan menjerit-jerit ketakutan namun menyimpan semangat besar untuk melahirkan anak pertama kami, Arif. Rupanya aku tak bisa menemani istriku melahirkan Arif. Aku berada dalam alam sadar dan tidak setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku. Ketika terbangun aku dalam keadaan kepalaku dipenuhi perban, kata dokter aku sedikit mengalami amnesia ringan. Untung masih mengingat ada istri disamping yang sedang menggendong seorang bayi, Arif. Arif lahir tanggal 12 Mei tepat di hari Minggu. Apakah aku menyesal tidak menunggui kelahirannya? Bahkan aku sangat menyayangi Arif, sang penerusku.

Semuanya, hari Minggu yang tadinya raib dalam hidupku ini tergambar jelas, bagaimana ternyata aku banyak mengalami kebahagiaan dan keceriaan walaupun ada tabir yang membuat aku tak bisa meraih kebahagiaan itu. Sebenarnya sangat bertolak belakang dengan kehidupan Ibuku yang selalu mendapat penderitaan di Hari Minggunya. Ah… ibu andai kamu tahu hari Mingguku sangat menyenangkan kau tak akan menanamkan sebuah mantra di hari lahirku dulu. Apa Ibu ingin aku merasakan kesedihanmu?
Layar tancap memutih tak tampak gambar apapun di dalamnya. Kemudian layar itu seperti terbelah dua memperlihatkan hamparan karpet putih dan seakan ada bisikan untuk membawaku memasuki hamparan itu, ternyata disana sudah ada Simbah, Pakdhe dan Ibuku, ingin meraih tanganku. Aku siap. Sedikit kutinggalkan pesan kecil untuk anakku, supaya mereka tahu aku sudah bahagia di alam selanjutnya.

***

Ayah membuka mata, itu yang membuat semua yang dikamar ini menangis bahagia. Matanya mengerjap-ngerjap tak tentu arah. Aku menghentikan bacaan Yassin dan membelai tangan Ayah untuk memastikan bahwa beliau tidak sendiri. Ibu dan Ratri juga mendekat walaupun air mata tak henti menetes dari kedua mata mereka.

“Sekarang hari apa, Rif?” tanya Ayah.

Aku, Ibu dan Ratri berpandangan. Mereka sudah aku ceritakan kisah lalu ayah, untung saja mereka mau memahami, tidak menyangkal bahwa cerita Ayah adalah mitos belaka. Mereka bisa percaya kejadian itu nyata.

“Sekarang hari Minggu, Yah” jawab Ratri cepat sebelum aku menjawabnya.

“Benarkah?” Ayah menyunggingkan senyumnya, matanya menatap kami satu persatu seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Namun mulutnya tak kunjung berbicara tangannya meraih sesuatu di balik bantalnya, sebuah kertas kecil yang diangsurkan kepadaku. Aku memegang tangan Ayah dengan erat sampai Ayah terpejam kembali. Aku tak paham maksud Ayah.

Hingga ternyata kami mulai menyadari, bahwa Ayah telah pergi untuk selama-lamanya. Ini Hari Minggu pertama dan terakhir untuknya, namun Ayah seperti bahagia merasakannya, apakah mantra gaibnya sudah luntur bahkan kami tak merasakan firasat apapun sebelum Ayah meninggal. Mungkin di alam lain Ayah akan merasakan bagaimana hari minggunya berjalan dengan bahagia, seperti yang ibu ceritakan kepadaku kemarin.

Terjemahan Maskumambang: Wahai putraku hendaklah kau ketahui. Artinya Panca Wisaya tersebut pertama rogarda maksudnya sakitnya badan; Kedua sararda yaitu kasengsaran dalam diri; Ketiga yaitu wirangarda artinya sakitnya hati; Keempat cuwarda yaitu kasengsaran hati, durgarda artinya kecewanya hati

Hanya tulisan itu yang kubaca dari kertas kecil pemberian Ayah. Sebuah pelajaran hidup bahwa semua penderitaan, kesengsaraan hidup tak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia. Semua pasti akan mengalaminya, dan manusia dituntut lebih bijak menghadapi penderitaan hidup itu, tidak hanya aku, Ratri maupun ibu. Semoga Ayah bahagia dengan hari Minggunya di alam sana.

***
Yogyakarta, 21 September 2011
Trims untuk Teguh Wibowo untuk ide awalnya.

Iklan

~ oleh adHe gusti pada 4 Desember 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: