Oleh: adHe gusti | 5 Februari 2010

Ruang Hati

Kebisingan Hati
Hatiku seperti ada yang merasuki, sejenis manusia yang banyak jumlahnya. Ini bukan masalah siapa yang memasuki tapi aku merasakan hatiku menjadi ramai dan tak ada ruang untuk kekasihku.
hmm….di mana dia sekarang? Sejak hati ini ada banyak yang menempati, kekasihku raib tidak saja jiwanya tapi raganya. Dia menghilang lantaran di usir oleh penghuni hatiku yang lain. Sangat menyakitkan. Para penghuni itu telah menciptakan tatanan pemerintah agar tidak terjadi kericuhan. Sayangnya mereka masih mengadakan pemilu puncak untuk menentukan siapa yang berhak memimpin negara hatiku.
haha….seperti negara formal saja, padahal itu hanya sebuah komunitas yang tidak terdeteksi oleh Badan CIA di dunia. ku nikmati drama para warga yang menempati tiap sudut hatiku.
indah dan menarik.
Sayangnya kekasihku tidak berada di sana. di mana dia?
Sejak kepergiannya merantau mencari kehedonisan, aku sendiri. Dia mencari kepuasan dunia yang hanya akan di nikmati seorang, dan bukan bersamaku. Ah ku pikir kekasihku terlalu rakus mengejar dunia dia tidak menyadari ada banyak penghuni hatinya yang harus dia perhatikan juga.
Aku pun sekarang punya kesibukan mendengar semua desas desus yang ada dalam hatiku ini. Mendengar nama si A di perdebatkan, si B di kecam, si C sedang mennangis meronta mencari ibunya. Si D sedang memimpin rapat untuk mengatur strategi berperang sampai titik darah penghabisan. Ku dengar itu saat insomnia ku kambuh dan aku merindukan pelukan kekasihku. A…mengapa dia tak kunjung datang?
Sebuah pagi,
Aku tersentak. Ternyata semalam terjadi pergumulan semu. Lalu ku lakukan olah batin mencoba menggali apa yang sudah terjadi?
“Ada reformasi pemerintahan”
“Mengapa?”
“Pemimpinnya ternyata korupsi”
“Memang di hati ku ini ada korupsi”
“Ada, di mana-mana pasti ada. Termasuk kamu yang telah korupsi terhadap ruang di hati”
“GOsh…mengapa kau berkata begitu”
Salah satu penghuni yang berhasil ku ajak bicara hanya mencibirku dengan kata-katanya yang pedas.
“Kau sisakan ruang yang sangat besar, sedang kami rela berhimpit-himpitan di sudut hati yang terkecil. padahal kami beranak pinak. Mengapa tidak kau hibahkan saja ruang tersebut untuk kita, sehingga kau tak akan merasakan kesakitan ketika kita mengetuk dinding hatimu. Buat siapa ruang sebesar itu kalau yang kau harapkan tak kunjung dating?”
Telak. Aku tak mampu menggambarkan bagaimana mereka berdemo mencoba meminta secuil ruang kosong yang tak ku sadari hanya ku berikan untuk kekasihku tersebut. Mengapa aku tak bisa peka dengan keadaan penghuni hatiku.
Pikiranku mengerucut, merayap dari sisi dinding hati yang satu ke dinding yang lain. Kecepatannya dapat dihitung sepersekian jam, bertemu setiap makhluk lalu mereka mengungkapkan apa yang selama ini tak ku mengerti.
“OK, aku memang menyadari kekasihku tak akan kembali. Dia terlalu jauh….dan ruangan ini…..” aku tersendat entah akan bicara apa.
Ku lanjutkan saja,
“Ruangan ini untuk kalian.” Cetusku tiba-tiba, bahkan aku tak mampu mengendalikan mulutku yang mulai bercuap-cuap tentang keadilan.
Aku keluar dari meditasi panjang. Dan ada perasaan baru yang tiba-tiba hadir.
Aku menjadi sunyi tanpa kebisingan.
Ternyata setelah ku tengok hatiku, penghuninya sedang bersembahyang tanda syukur atas ruangan baru mereka.
Aku tersenyum. Ah…ini seperti kelas yoga saja. Meditasi yang pada akhirnya mendapatkan kepuasan batin. Aku serasa di atas awan.

Anehnya, rasa untuk kekasihku tak ada bekasnya. Dia hilang begitu saja. Kemana?
Ku coba kumpulkan memori tentang dia namun tak sempurna.
Ku coba mengais namanya di sudut sudut hati namun menguap.
Ku coba meraihnya dari otakku ternyata telah terformat.
Sekarang aku menjadi pesakitan yang mencari cinta.
Makna yang belum sempat aku harfiahkan dalam hidup.

Rasanya saja hatiku bebas tapi kepalaku ada yang mengikat ke belakang. Kekasih yang tak kunjung dating. Dia telah merelakan hati ini di huni banyak orang. Rela rasa ini di bakar hidup-hidup lalu di jadikan santapan dewa. Padahal pintu hati kubuka lebar-lebar, jendela ku singkap agar anginnya menyejukkan hati yang terkadang panas lantaran sesak.

Pagi menjelang siang,
Aku keluar. Ternyata mendung tapi tak hujan. Ku masuki sebuah kedai yang dulu menjadi tempat favorit antara aku dan kekasih. Tidak ada kesedihan did alam sana. Pengunjungnya juga sedang bersuka cita.

Haih……apa karena hati ini telah sarat muatan penghuni hingga aku jadi mati rasa. Tak ada sedih, tak ada kecewa, tak ada marah, tak ada tangis, tak ada senyum dan tak ada air mata. Mungkin…..
Saat-saat penantian yang tak pernah berakhir. Menyusupalah gumpalan awan hitam dalam hatiku. Lalu penghuninya kocar-kacir tak karuan. Aku tak mampu membendungnya. Bukan itu semua yang aku inginkan, tapi kekasihku.
Dia…terusir dari ruang hati karena kehedonisan puncak. Ia meledak bersama kepergiannya merantau lalu tak pulang. Kabar pun tak ada. Sungguh tragis kalau sampai ku dengar ia telah mati di telan hiu tanpa ku lihat wajah sendunya lagi. Ya, wajah sendu penuh ambisi.
Aku mulai semadi ku, jiwaku melalang masuk ke dalam. Dan ku datangi penghuni hati ku. Ku sapa.
“kekasihmu pengecut” katanya. Aku tak bicara, ku biarkan saja ia meracau.
“Dia bukan milikmu tapi milik alam. Ku lihat dia sedang bersusah mencari emas di dasar lautan. Dia tak mau mengakui kalau dia lemah. Angkuh bukan?”
Aku seperti melihat gambaran kekasihku saja kalau ku dengar salah satu penghuni hati itu bicara. Bicara bak peramal ulung dapat melihat dunia sebaliknya. Namun entah mengapa aku percaya.
“Sampai kapan dia bertahan dengan idiologinya” aku mulai angkat bicara.
Tiba-tiba aku seperti disengat ribuan lebah. Suaranya riuh. Aku bertahan.
Semadi ku hancur tanpa sebuah jawab.
Ah …. sial.

Malam,
Malam bersama beberapa penghuni hati aku mulai menghitung bintang. Layaknya menghitung hari sejak kepergiannya. 900 hari saja itu tak terasa. Hanya jengah saja.
“Aku ingin mencarinya sendirian” gumanku.
Tapi anehnya para penghuni hatiku tak setuju dengan gumananku. Mereka protes.
“kenapa, tidak terima??”
Mereka semakin riuh. Mereka mulai ambil ancang-ancang untuk angkat bicara. Ternyata ketuanya yang maju. Ku dengar sayup-sayup.
“lalu akan kau berikan sebuah ruang kosong yang indah special untuknya. Kemudian membuang kami begitu saja?”
“Kami masih butuh tempat!”
“jangan hadirkan dia di sini. Dia tak pantas untukmu.”
“kenapa?”
“dia terlalu rakus. Dia mengambil semua ruang kami. Dan kamu akan berpaling dari kami.”
“aku tak akan berpaling dari kalian”
“sungguh…jangan.”
Aku masih bertahan dengan keinginanku. Ku putuskan besok saja.
Aku tidur. Bersama kebisingan-kebisingan yang tak akan berakhir mungkin sampai besok pagi.
Kemudian pagi kembali,
Ku temukan surat, di antara tumpukan surat – surat lain yang tak begitu penting. Surat ini lain, bersampul hijau, lusuh, dan bau amis. Ku buka.
Ku baca….
Baris tiap baris…
Rasanya aku harus mengurungkan niatku untuk mencari kekasih hati. Karena melalui surat ini mengisyaratkan dia tak akan kembali sampai kapanpun.
Ruang ini hanya kenangan saja. Dia hanya sesaat. Dan kenangan yang pahit memang harus terkubur. Aku kecewa.
Akhirnya aku memang harus memulai meditasi pagi ku. Bergumul dengan penghuni ruang hati yang tak akan pernah kemana mana. Karena ruangku memang di situ.
Dan aku tak perlu memikirkan kekasih itu lagi. Cukup.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori